Tiga tipe migration

Tiga tipe migration SEOMigration SEODomainPlatformURL Structure

Setiap tipe punya risk profile berbeda. Domain migration paling berisiko (Google perlu re-establish trust ke domain baru). Platform migration medium risk (URL bisa tetap sama, yang berubah internal infrastructure). URL structure change lowest risk kalau redirect rapi, tapi paling sering bikin issue kalau sloppy.

Fase 1: Pre-migration audit (2-3 minggu sebelum)

Phase ini non-negotiable. Tanpa baseline, Anda tidak bisa ukur impact. Tanpa komplit map URL, redirect pasti ada yang ketinggalan.

Pre-migration audit 6-langkah

  1. 1

    Full site crawl

    Screaming Frog atau Sitebulb crawl seluruh situs existing. Export CSV dengan URL, title, meta description, H1, status code, canonical, noindex flag.

  2. 2

    GSC baseline export

    Google Search Console > Performance > export 16 bulan data. Total clicks, impressions, top queries, top pages. Simpan sebagai baseline.

  3. 3

    GA4 baseline export

    Google Analytics 4 > export traffic per landing page, conversion rate, revenue (kalau ecommerce). Baseline 3-6 bulan terakhir.

  4. 4

    Backlink audit

    Ahrefs atau Majestic export daftar domain yang link ke situs Anda. Top 100 backlink paling penting, reach out owner kalau migration ke domain baru.

  5. 5

    Schema inventory

    Document semua schema JSON-LD yang aktif: Organization, Product, Article, FAQPage. Note @id values, sameAs links, semuanya.

  6. 6

    Rich result inventory

    GSC > Enhancements. Catat semua rich results: FAQ, breadcrumb, product, review. Harus di-preserve setelah migration.

Fase 2: Redirect mapping (1-2 minggu sebelum)

Inti dari migration SEO. Setiap URL lama harus punya tujuan baru, 1-to-1 kalau memungkinkan. Spreadsheet dengan dua kolom: URL lama, URL baru.

Format redirect mapping spreadsheet URL Lama | URL Baru https://oldsite.com/produk/kursi-kayu | https://newsite.com/products/wooden-chair https://oldsite.com/artikel/tips-dekor | https://newsite.com/blog/decor-tips https://oldsite.com/tentang | https://newsite.com/about https://oldsite.com/tentang-kami | https://newsite.com/about (consolidate)

Prinsip mapping:

  • 1-to-1 selalu diutamakan. Setiap URL lama punya satu URL baru yang equivalent.
  • Konsolidasi boleh, kalau jelas. Dua URL lama (misal /tentang dan /tentang-kami) boleh redirect ke satu URL baru.
  • Redirect ke homepage hanya last resort. Kalau benar-benar tidak ada equivalent, redirect ke kategori parent, bukan homepage.
  • Hindari redirect chain. A -> B -> C = bad. A -> C langsung = good.
  • Semua redirect harus 301 (permanent), bukan 302. 302 tidak pass full equity.

Implementasi redirect di .htaccess

Contoh .htaccess redirect 301 RewriteEngine On # Redirect single URL Redirect 301 /produk/kursi-kayu /products/wooden-chair # Redirect pattern (semua /artikel/ ke /blog/) RewriteRule ^artikel/(.*)$ /blog/$1 [R=301,L] # Redirect cross-domain (untuk domain migration) RewriteRule ^(.*)$ https://newsite.com/$1 [R=301,L]

Fase 3: Launch day checklist

Launch day 6-langkah

  1. 1

    Deploy redirect map

    Upload .htaccess atau nginx config dengan semua 301 redirect. Test 10-20 URL random untuk confirm redirect working.

  2. 2

    Submit sitemap baru

    GSC > Sitemaps > add sitemap.xml dari domain baru. Juga submit ke Bing Webmaster.

  3. 3

    Update robots.txt

    Pastikan tidak accidentally block crawl (sering terjadi, copy staging robots.txt yang "Disallow: /" ke production).

  4. 4

    Submit Change of Address (domain migration)

    GSC > Settings > Change of address. Google official tool untuk migration domain, speed up recrawl.

  5. 5

    Update external sameAs

    Wikidata, LinkedIn, GMB, Facebook, Crunchbase: update "official website" ke domain baru. Critical untuk preserve entity recognition.

  6. 6

    Monitor real-time

    GSC > Coverage. GA4 > Real-time. Cek 10-20 top pages manual, pastikan redirect benar.

Fase 4: Post-migration monitoring

Timeline recovery post-migrationH+0LaunchH+1Crawl spikeM+1Drop zoneM+2StabilM+3RecoveryM+6Net gain

Week 1-2: Crawl intensive

Googlebot re-crawl seluruh situs baru. Expect crawl rate spike di GSC. Monitor Coverage report setiap hari. Issue yang perlu di-fix segera: "Not found (404)" (redirect missing), "Redirect error" (chain atau loop), "Server error" (backend issue).

Week 3-6: Ranking turbulence

Google re-evaluate ranking untuk setiap URL baru. Ranking naik turun tidak predictable selama 4-6 minggu. JANGAN panik dan rollback, itu jauh lebih merusak. Stick with plan, monitor, fix issue spesifik.

Month 2-3: Stabilization

Ranking mulai stabil. Traffic baseline recovered. Target: 90-100 persen traffic lama ter-recover di bulan ke-3.

Month 4-6: Net gain

Kalau migration dilakukan dengan benar, traffic biasanya lebih tinggi dari baseline original. Fresh architecture sering lebih SEO-friendly (faster load, cleaner URL, better schema).

Common mistakes yang fatal

Kesalahan yang bikin traffic hilang permanen

Delete sitemap.xml lama. Sitemap lama bisa jadi reference untuk Googlebot re-crawl. Simpan sampai semua URL lama di-index dengan URL baru.

Block crawl di staging yang keangkat ke production. robots.txt staging yang "Disallow: /" accidentally deploy. Situs hilang dari Google dalam 2-3 hari. Selalu audit robots.txt pre-launch.

Schema @id values hard-coded lama. JSON-LD dengan "@id": "https://oldsite.com/#org" di situs baru. Schema relation broken, entity recognition reset. Update semua @id ke domain baru.

Knowledge Panel loss karena sameAs broken. Wikidata, LinkedIn, GMB masih point ke domain lama. Google de-associate entity dari new domain. Update semua sameAs pre-launch.

Drop 301 setelah 3 bulan. Jangan remove 301 redirect sampai minimum 1 tahun, idealnya permanent. Backlink lama masih link ke URL lama, remove redirect = lose that link equity.

Change content drastis bersamaan migration. Migration + redesign + rewrite = three changes compounded. Kalau ada masalah, tidak tahu mana root cause. Split: migration dulu, redesign setelah 3 bulan.

Schema preservation checklist

Schema adalah aset SEO yang sering dilupakan di migration. Update yang wajib.

  • @id values: update semua dari oldsite.com ke newsite.com.
  • sameAs arrays: update URL ke platform otoritas (Wikidata, LinkedIn, etc) yang match dengan domain baru.
  • url property: di Organization, Person, Product schema, update ke domain baru.
  • image property: logo URL, product image URL, update ke CDN atau image host baru.
  • isPartOf references: kalau ada schema yang reference WebSite parent, update @id.
  • Breadcrumb structure: kalau URL structure berubah, breadcrumb schema juga berubah.

Indonesian context: hosting migration juga counts

Banyak situs Indonesia pindah hosting (misal dari Niagahoster ke Rumahweb, atau dari shared hosting ke VPS) tanpa sadar itu adalah "mini migration". IP address berubah, sometimes URL structure berubah (kalau ganti CMS).

Best practice: kalau ganti hosting, pastikan DNS TTL diturunkan 24 jam sebelum switch (ke 300 detik, dari default 3600-14400). Ini minimize downtime perception untuk Googlebot. Post-switch, monitor GSC server errors selama 1-2 minggu.

Kalau migration Anda kompleks (multi-domain, multi-region, schema consolidation), cross-reference ke SKU Migration Entitas untuk layanan end-to-end, dan Technical SEO untuk foundation principle.

Rollback plan

Selalu punya rollback plan sebelum launch. Kalau masalah catastrophic (traffic drop 60 persen+ dan terus), kemampuan untuk revert dalam 24-48 jam bisa save brand.

Rollback requirements: DNS records old version, backup database dan file lama, redirect rules yang bisa di-disable dalam satu config change. Jangan pakai ini sembarangan, rollback juga ada cost SEO (Google confused twice). Reserve hanya untuk emergency serius.

Pertanyaan Umum

Apa itu migration SEO?
Migration SEO adalah proses memindahkan situs ke domain baru, platform CMS baru, atau struktur URL baru sambil preserve ranking dan traffic organik. Tiga tipe umum: domain migration (brand.com ke newbrand.com), platform migration (Shopify ke Magento, WordPress ke headless), dan URL structure change (redesign internal linking dan slug). Semua tiga tipe butuh planning SEO yang hati-hati.
Berapa traffic drop yang normal setelah migration?
Dengan SEO migration yang di-plan dengan baik: 10-20 persen traffic drop di minggu 1-2 (Google re-crawl dan re-index), recovery ke baseline dalam 4-6 minggu, dan sering net gain 10-30 persen setelah 3 bulan (karena fresh architecture biasanya lebih SEO-friendly). Kalau drop lebih dari 40 persen dan tidak recover dalam 6 minggu, ada masalah serius yang harus di-investigate.
Kapan paling aman untuk do migration?
Hindari periode peak business. Untuk e-commerce Indonesia, jangan migrate di Ramadan prep (Februari-Maret) atau Harbolnas (12.12, 11.11, 9.9). Ideal: Q1 awal (Januari-Februari) atau Q3 middle (Agustus-September), saat traffic baseline stabil dan tim SEO bisa full-attention. Schedule juga harus accommodate 2-3 minggu monitoring intensive post-launch.
Apakah Knowledge Panel selamat setelah domain migration?
Kalau migration di-handle dengan benar, Knowledge Panel bertahan. Kunci: update semua sameAs link di schema ke domain baru, update Wikidata official website property, submit change-of-address di Google Search Console, dan maintain 301 redirect minimum 1 tahun. Knowledge Panel lost adalah risk terbesar migration, dan recovery-nya memakan waktu berbulan-bulan.
Redirect chain 301 apakah bahaya?
Ya, redirect chain (A -> B -> C -> D) kehilangan SEO value di setiap hop. Google "passes link equity" di 301 tapi dengan loss setiap redirect. Best practice: redirect langsung A -> D (final URL), bukan via intermediate. Kalau sudah terlanjur punya chain dari migration multiple, buat map redirect langsung ke destination final di single hop.

Rencana migration situs? Jangan gambling.

SKU Migration Entitas handle domain/platform migration end-to-end. Pre-audit, redirect map, schema preservation, post-monitoring. Hubungi kami untuk konsultasi.

Lihat Paket Migration